Kesetiaan pada
Tiang Pancang yang Rapuh
Bukan tentang bangunan yang roboh — tapi tentang mengapa kita masih menepuk pundaknya, sambil pura-pura tidak mendengar bunyi retak di bawah kaki.
Ada satu kata yang, bila cukup berani diucapkan di sudut penyangga paling jauh, bisa membongkar seluruh megahnya bangunan kepercayaan tanpa perlu palu godam. Tapi kata itu sudah lama karam, tertimbun di bawah gemuruh seremoni dan gunting pita yang berkilau. Yang tersisa kini bukan lagi pertanyaan apakah tiang itu retak — melainkan sejak kapan kita sepakat, diam-diam, untuk berpura-pura tidak melihatnya.
Mundur sedikit ke titik pangkal. Dulu, setiap tiang pancang ditanam dengan janji setinggi baliho: kokoh, abadi, sanggup menahan beban zaman. Upacara peresmian penuh sesak oleh kata-kata bertuah — keteguhan, kesiapan, kepastian — dilontarkan bagai mantra yang diyakini akan mengeras seiring beton yang mengering. Orang-orang pulang membawa harap yang dititipkan pada besi dan semen, percaya bahwa apa yang berdiri hari itu akan tetap berdiri esok, dan esoknya lagi, dan esok-esok yang bahkan belum sempat dibayangkan.
Tapi waktu punya cara sendiri membaca janji. Retak pertama muncul kecil, nyaris tak kasat mata, seperti bisikan yang sengaja dipelankan agar tak mengganggu perayaan yang masih berlangsung. Retak kedua datang lebih lantang. Retak ketiga mulai menganga. Dan pada saat itulah, alih-alih diperbaiki, ia justru dijubali aksara — laporan, sanggahan, klarifikasi, janji revisi — sampai tiang yang sesungguhnya sedang runtuh itu terlihat sibuk oleh kata-kata, bukan oleh perbaikan.
Gawangan dipadati kalimat bertuah, sandaran diselimuti cibiran, dan tak ada satu pun lorong yang benar-benar sunyi dari dengung kekecewaan.
Anehnya, di tengah gemuruh itu, masih ada yang berdiri dengan mata terpejam, bangga mengatakan semuanya baik-baik saja — seolah ketiadaan bisa disulap jadi kehadiran hanya dengan intonasi yang cukup yakin. Bagi mereka yang lebih paham duduk perkaranya, ini bukan lagi berita, melainkan bahan tertawaan getir: yang paling jauh dari kenyamanan justru paling sering diminta percaya, sementara yang berkuasa menjaga jarak aman dari reruntuhan yang mereka ciptakan sendiri.
Esok tak wajib membawa kita kembali ke titik nol — ia hanya perlu memastikan kita tak tenggelam lebih dalam sebelum sempat sadar. Sebab kesiaan mengejar manfaat yang terus-menerus tertunda punya harga yang dibayar diam-diam: langkah yang melambat, kepercayaan yang menguap, dan pertanyaan yang makin sering muncul di kepala — untuk apa semua pencapaian ini dibanggakan, jika di baliknya cuma tiang yang menahan napas, menunggu giliran roboh?




