Jumat, 26 Juni 2026

Kering Berganti


----


Yang Mengering Yang di Bawah 

Menengadah, sesosok wajah merekah —

orang menyebutnya gairah,

senyum kecil yang semringah,

padahal tak satu pun dari itu

sanggup mengubah cerita:

malam tetap malam, siang tetap siang,

kecuali ada yang berani melihat wajahnya —

bukan topengnya.


Di sini, ia telah bicara banyak.

Usia-usia ingusan dibikin senang dan girang bukan kepalang —

kendati yang keluar tak lebih dari deretan kata penghibur,

bunyi-bunyian tanpa inti,

merdu di telinga, kosong di sumsum.

Di sana, ia sangat rajin memberi sambutan —

jabat tangan erat yang hanya sebatas lewat,

otot-otot wajah ditarik dan diatur

hingga menghasilkan senyum yang tampak sungguhan.

Banyak dari mereka yang berdiri di sana pun melakukan hal serupa:

saling menyambut dengan senyuman,

pikiran terpaku hanya pada titik pertemuan,

tak perlu memikirkan pembalikan, pengembalian —

anggap saja keduanya sama,

toh nanti akan beres dengan sendirinya.

Begitulah gumam yang hanya terlintas di kepala,

sementara wajah itu terus disemringahkan.


Sisi-sisi yang terukir dalam wajah itu kian mengeras dalam tuturan.

Teriakan soal sampah-sampah belum juga mengubah bentuk —

sampai tangan-tangan lain datang, mengumpulkan, mengolah.

Ini bukan model mencla-mencle biasa.

Di sini bilang begini,

di sana bicara beda,

ujungnya malah mengarah ke arah ketiga yang tak cocok dengan keduanya.

Tiga versi sekaligus —

mungkin sang pengucap sedang menikmati kebimbangannya sendiri,

atau memang itulah strateginya.

Maka tak heran dari ketiga sisi itu

selalu ada yang menangguk keuntungan,

dengan margin yang super duper tak terduga

hingga muncrat ke mana-mana —

dan kami pun ikut kecipratan,

tak pelak ikut kegirangan.


Lalu apa yang salah dengan si ingusan?

Bukankah ia dinamai begitu karena ada ingus?

Artinya, kalau ingusnya sudah tak ada —

ia bukan lagi ingusan.

Ia sudah berubah.

Kalau kamu lebih suka pada yang tidak berubah,

mana yang kemudian lebih kau sukai?

Orangnya?

Atau ingusnya?

Ingat, kawan —

ingus yang mengering sudah berganti nama.

Dan tidak mustahil,

ia kini bersemayam tenang

di bawah mejamu.

🤫🤭😵‍💫


Selasa, 24 Maret 2026

Jadi Apa Saja

Apa peranmu Kak? 

Kuingat padamu seketika, 

Ya itu secara otomatis terhubung

Dengan kecepatan yang tak terduga

A kan hal serupa yang juga pernah meluncur

Seolah dengan spontan dari bibirmu yang tipis;

Kupahami bahwa tidak sesingkat itu engkau mencoba mengumpulkan keberanianmu, juga butuh sekian waktu engkau mereka kata memilih tutur yang layak hingga pantas, menjadi sebuah tanya yang mampu terendus sebagai keseriusan hati;

Engkau tidak datang untuk menjadi bintang atau pusatnya perhatian bagi setiap mata, engkau datang juga dengan keingintahuan yang kau sertakan, sebelum kepergian dan perpisahan oleh keadaan dan situasi pekerjaan dan perjalanan kita;

Sebenarnya, bukan aku menjadi apa lagi nantinya, engkau kini kian tampak semakin ingin tahu tentang dirimu yang sebenarnya; 

Walau... 

Semua jawaban tentang itu sebenarnya, telah jauh sebelum ini kembali kita bicarakan,... Kepastian untuk kesekian kali, tetap masih ingin kau dengar, @ndai musim semi yang kau nanti kelak menggulirkan kembali kisah termanis lagi 🤯 tentu untuk kita... 


Minggu, 18 Mei 2025

Lokal Lisa (melihat buatan asli)



Keramahan Lokal: Sudah umum jadi menu Keseharian orang bicara Dengan banyak kata-kata Mulai dari yang pelan dan biasa Hingga yang keras bahkan teriak...

​🥥 Sari Mandiri Pedalaman 🌅

​Kelapa dipetik, santan kental direbus lambat,

Di tungku kayu, waktu berjalan tanpa terlewat.

Keuletan tangan, mengaduk sabar dan teliti,

Menjaga api kecil, hati penuh janji.

​Berjam lamanya, air pergi, buih pun sirna,

Tinggal minyak emas, murni tanpa rekayasa.

Ini ketelitian warisan, sehat cara hidupnya,

Dari bumi kembali ke bumi, tiada sia-sia.

​Setiap tetesnya, cerminan jiwa yang kukuh,

Mandiri dari alam, tanpa pernah mengeluh.

Minyak kelapa suci, lambang kearifan lama


Jumat, 04 April 2025

Digadang-gadang

Mulai sejak awal telah memunculkan sejuta tanya, namun tak perlu dirimu ragu tentang bagaimana setelah kutahu, karena pautan cinta tetap melekat erat padamu,tanpa ragu dapat kausebut menyatu hati, karena tiada arah karena tanya perlu mendapat selengkapnya jawab demi Sang Pancawemonoh;

Itu kuyakini bukan cuma dalam kepala ini, namun pada semua yang jauh-jauh rela datang demi melihatnya, tidak pula pada mereka yang belum sempat untuk mendekati atau meluangkan waktunya, demi memenuhi hasrat hati;

Itu bagian yang ternyata sangat disayangi, sebagai karya unik yang memang sangat layak untuk disayangi, karena tidak menjadi penting membicarakan terlalu banyak apa yang masih disayangkan.

.... begini;





Minggu, 23 Februari 2025

Kupu-kupu



Baru Kenal: Kupu-kupu : Kupu Cantiknya Dikau walau tanpa cuping Indahmu selalu memberi cerita cinta Terbangmu hadiah serta ilham cerita Kepak...


Kupu-Kupu Kertas

Dari balik awan hitam yang menggantung kelam,
tersembunyi wajahmu, sayu dalam diam.
Ketika rembulan tak lagi mampu sembunyikan diri,
maka "kupu-kupu kertas" bertanya, terbang ke mana kini?

Kau sembunyikan hati nuranimu yang berbisik lirih,
di balik senyum palsu, tersimpan luka perih.
Luka yang menganga, kala dusta menjadi candu,
belenggu jiwa yang merantai kebebasanmu.

Kupu-kupu kertas, jangan menari di atas bara,
sebab di sana, kau bakar dirimu tanpa suara.
Lepaskan topengmu, hadapi badai yang menghadang,
agar jiwa yang tersembunyi, temukan jalan pulang.



Senin, 27 Januari 2025

Relevansi

Ruas seolah memberi jarak 

Sekat bagaikan memisah letak 

Dinding dikenal membatasi 

Namun saat mata memandangmu 

Tanpa semua itu telah terasakan 

Bedanya dengan keadaan lalu 

Keadaan yang diurai pencerita 

Dengan segala caranya memandangmu...

...

Narasi menjadi sekumpukan reka lahirnya imaginasi akan sosokmu makhkuk dari dunia lain, dunia yang tertutupi oleh kain -kain bermacam warna, menutupi melebihi tingginya hidung; upaya penimbunan hingga hanya tampak rambutmu saat engkau berlalu tanpa kata-kata.....

Adakah relevansinya, akan semua perjalanan ini bagi kita punya kawan ? Bagaimana bisa kupercaya, karena rambut palsu siapa pun bisa, .. namun bagaimana langkahmu, kini telah membuktikan seperti yang pernah engkau katakan, tempo itu, saat kita akan memulai langkah berat kita yang terasa mustahil, untuk mengubah keadaan, kecuali ajakanmu untuk mengubah cara kita berpikir dan merasakan... banyak hal.

Missu"

Kamis, 14 November 2024

Keindahan Mu.....



tiada 
cara buat menggantikan
keinginan menyapamu lagi
meskipun hanya di sini ....

ketika..
datangmu pernah memilih 
sebagai embun pagi 
bunga dan dedaunan tersenyum 
darinya kumengerti sapaanmu 
yang membahagiakannya...

tatkala 
yang berupa derasnya hujan 
berteman guruh dan petir 
sebagai saat kedatanganmu 
... pun tiada ragu 
ada di situ engkau menyatu 
di dalam mendinginnya alam sekitar..

begitu 
pernah waktu itu 
kau katakan agar tahu 
bagaimana cinta dan rindu 
selalu menyatu 


Nyeru makan

Kesetiaan pada Tiang Pancang yang Rapuh Sebuah catatan tentang yang rapuh Kesetiaan pa...